Seorang musafir tinggalkan pesan di secarik harapan,
“Pergilah ke timur, cegah matahari terbit, cukup itu pintaku”
Entah apa yang ada dalam benaknya
lagi-lagi dia berkelana dalam kegelisahan, kegundahan
mungkin dia sedang berjalan di tapak-tapak takdirnya
atau dia sedang mencari tapak-tapak yang hilang?
Tak tahu apa yang direncanakan dia dan Dia
itu urusan mereka
tapi duka jadi ikut campur
menjadi kabut di tiap langkah, tiap kumelangkah
entah apa yang ingin dia dapat dari perjalanannya…
entah apa citanya…

(demi cinta? Apakah Romeo dan Juliet sudah terlalu kuno untuk jadi dongeng?
Di mana keegoisan untuk mencintai diri?
Tidak hanya mengorbankan cinta untuk orang lain,
seseorang…)

Tanpa seorang pun tahu tujuan dan alasan sang musafir berkelana,
bahkan dirinya
sejak kapan dia menjadi rapuh?
termakan oleh nafsu

mungkin bisikan angin yang bisa mengganti haluan hatinya
untuk pulang
kembali dalam pelukan ibunda
rahim, tempat asalnya, tempat pijakan pertama

air mata jatuh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *