Oleh: Arty

Semenjak bekerja di salah satu perusahaan di sekitaran Masjid Al-Markaz ada kebiasaan baru yang harus saya lakukan di pagi hari adalah naik becak melewati salah satu ‘Pasar Tradisional’ yang cukup besar di Makassar yaitu Pasar Terong. Karena memang jarak dari tempat saya turun dari pete-pete (Istilah Makassar Angkot) dan kantor saya cukup jauh sehingga memang saya harus menggunakan kendaraan tradisional itu.

Pemandangan di sekitar pasar dipagi hari tidak hanya dipenuhi oleh orang-orang yang berjalan kaki saja tapi juga motor-motor pengunjung pasar yang begitu banyak parkir berlalu lalang di jalan pasar yang relatif sempit karena dibahu-bahu jalan dipenuhi penjual. Cukup gemes aja setiap saya melewati jalur itu. Bukan kesan tradisional yang saya dapat, malah kemacetan.

Tak jarang ketika ramai pembeli ada juga mobil yang memaksa masuk ke pasar sehingga menyebabkan kemacetan yang lumayan panjang karena memang jalan di pasar itu hanya bisa cukup dilewati untuk satu mobil saja, sehingga jika ada becak atau motor di depannya sangat sulit untuk mobil itu bergerak.

Bayangkan aja, jalur pasar terong yang bisa dilewati dengan memakan waktu hanya 7 sampai 10 menit harus kulalui 15 sampai 20 menit sungguh membuang waktu. Melihat kejadian yang berulang ditiap pagi membuatku bertanya, inikah pasar tradisional? Pasar yang setiap pagi dipenuhi asap kendaraan bermotor yang mungkin saja juga mengenai sayur-sayur segar yang dijual di pasar itu.

Sungguh sayang ketika sebuah pasar tradisional sudah tercemar oleh polusi kendaraan bermotor.. Masihkah pantas disebut pasar Tradisional?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *