Oleh: Arty

“Iya hati2..” jawabnya melepaskan tangannya dan terus menghadap senja yang bahkan tak bisa dilihatnya..

Dia menggenggam tanganku sambil tersenyum memandang senja sore itu di Pantai Losari. Pandangan matanya tak pernah beralih dari matahari yang mulai tenggelam.

“Kemuning senja itu saksi kita merajut cinta, berharap cinta kita abadi seperti abadinya senja kala petang menghampiri..” Ucapnya lembut

Aku hanya menatapnya lirih dan hampir meneteskan air mata. Ini untuk kesekian kalinya aku membawanya kesini berharap dia bisa menikmati senja yang dulu selalu kunikmati berdua dengannya.

Namanya Rahmat aku mengenalnya 2 tahun yang lalu di tempat yang sama di Pantai Losari. Dan di sini juga pertama kalinya dia menyatakan cinta padaku.

“Andai aku masih bisa melihat wajahmu dan kemuning senja itu” bisiknya lirih. Aku tak bisa berkata apa-apa, kugenggam tangannya mencoba tuk menenangkannya.

Sudah hampir setahun setelah kecelakaan yang merenggut penglihatannya itu terjadi. Kecelakan mobil yang terjadi dalam perjalannya menuju gunung bawakaraeng untuk hiking. Sejak saat itu dia menghabiskan waktu dengan kegiatan sosial dan

“Bun, waktunya pulang..” ucap seorang pria dari belakang. Dia adalah suamiku Bobi yang kunikahi setahun yang lalu.

“Iya Mas, tunggu sebentar…” jawabku. “Aku pulang k’..” lanjutku pamit ke ┬áRahmat yang sedari tadi menggenggam tanganku.

“Iya hati2..” jawabnya melepaskan tangannya dan terus menghadap senja yang bahkan tak bisa dilihatnya..

THE END

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *